oleh

Puto Mili dan Perahu Kesayangannya

Tahun 1997, saat itu akhirnya Puto Mili bisa membuat perahu sendiri dari hasil menabung bertahun-tahu. Ia membuat perahu di halaman rumahnya yang setengah berbatu dan setengahnya adalah laut.

Pemandangan setiap hari adalah melihat tubuhnya yang kurus, hitam legam punggungnya, berkilat oleh air peluh dan keringat, nafasnya sesekali ia tahan lalu dilepas dengan kasar karena mengangkat beban papan dan kayu batangan berahu yang berat. Memukul-mukul pasak kayu dengan tukul besar, membuat otot-otot di bahunya yang telanjang tampak bersembulan keluar.

Akhirnya, perahu pun jadi, itu adalah perahu kesayangannya, perahu satu-satunya, untuk menafkahi seorang istri dan lima anaknya.

Hanya beberapa bulan perahu kesayangan itu ia nikmati, menemaninya di laut, memancing ikan tongkol dan menjala ikan terbang, perahu terpaksa harus DIJUAL, untuk biaya anaknya masuk perguruan tinggi.

Dengan berat hati, Aya Sitti yang saat itu hamil tua, anak keenam, melepas keberangkatan suami dan putri sulungnya menuju Kota Kendari, sampai bayangan perahu dan suaminya hanya berupa titik hitam di laut lepas barulah ia membalikkan badan meninggalkan pelabuhan batu tempat perahu kesayangan sering ditambat.

Puto Mili mengantar anaknya ke kota dengan perahu kesayangannya itu untuk mendaftar kuliah, tepat di hari batas pendaftaran masuk kuliah berakhir.

Baca juga -->  Bajo vs Bajau. Apa yang Benar? Bajo atau Bajau?

Awalnya, Puto Mili tidak mau menjual perahunya, karena itu adalah alat untuk mencari nafkah keluarga satu-satunya. Setelah melalui pergolakan batin dan debat panjang antara Puto Mili dan istrinya, pada subuh, dini hari, akhirnya Puto Mili berubah pikiran, Aya Sitti mengerti keputusan suami, tepat di hari batas pendaftaran masuk Perguruan Tinggi Universitas Halu Oleo Kendari.

Di hari yang sama, sudah ada orang kota yang menunggu untuk membeli parahu seharga 3,5 juta rupiah beserta mesinnya. Harga yang sangat di bawah harga jual saat itu, namun mau bagaimana lagi, anaknya butuh uang untuk masuk perguruan tinggi. “Yang penting cukuplah untuk biaya masuk kuliah anak saya dan bayar SPP pertamanya”, pikir Puto Mili.

Dari Langara menuju Kota Kendari akan ditempuh selama kurang lebih 4 jam. Cuaca hujan dan laut agak berombak. Putrinya meringkuk di haluan perahu menggigil kedinginan. Sesekali Puto Mili mengeluarkan air hujan bercampur air laut yang menggenangi lambung perahu.

Di tengah perjalanan, di depan Pulau Saponda, baling-baling mesin patah karena menabrak gelondongan kayu, baling-baling mesin tenggelam ke dasar laut, perahu mogok, tidak dapat meneruskan perjalanan dengan mesin yang menyala tapi tidak bisa terdorong maju.

Baca juga -->  Pendekatan Kearifan Lokal "Menggunakan Bahasa Bajau" dalam Memberi Motivasi Pendidikan ke Kampung-Kampung Bajau

Puto Mili akhirnya mendayung, mulai dari depan laut Pulau Saponda menuju ke Kendari, perjalanan yang seharusnya sisa satu setengah jam perjalanan itu mejadi 4 jam. Puto Mili mendayung sekuat tenaga tanpa henti, berburu dengan waktu karena hari semakin siang, beberapa jam lagi pendaftaran akan ditutup, ia terus mendayung melawan arus dan ombak.

Putri sulungnya berdiri dari haluan hendak membantu ayahnya mendayung dan mengeluarkan air hujan bercampur air laut yang menggenangi perahu, tapi dibentaknya, dilarangnya putrinya beranjak dari tempat duduknya, khawatir anaknya itu terlempar dan jatuh dari perahu karena ombak yang semakin besar dan hujan makin deras.

Akhirnya, lewat tengah hari, perahu bodi yang didayung Puto Mili pun sampai ke daratan ujung pinggiran Kota Kendari.

Puto Mili memberikan uang hasil penjualan perahu ke anaknya, tanpa ia ambil sepeser pun, ia lalu pulang ke kampung dengan naik kapal penumpang, akan kembali melaut dengan meminjam perahu sampan dayung milik kerabat dekat.

Begitulah perjuangan Puto Mili agar anak-anaknya mendapat pendidikan lebih baik.

Mohon maaf, pas di sini, saya tidak dapat melanjutkan kisah ini lagi, karena air mata sudah memenuhi rongga mata saya 😭😭😭

Puto Mili adalah Ayah saya, dan anak sulungnya itu adalah saya.

Baca juga -->  Bahasa Indonesia: Bab III Penerapan Ejaan Bahasa Indonesia

Mohon maaf Uwa’, Saya belum bisa mengganti PERAHU KESAYANGAN UWA’ 😭

Nasihat untuk adik-adikku dan buat kalian semua para anak-anak yang sedang menempuh pendidikan, ingatlah saat-saat paling tak terlupakan yang dilakukan orang tua kalian saat berjuang saat menempuh pendidikan.

Setiap langkah kalian wahai adik-adikku, saya berpesan SELALU INGAT ORANG TUA, SELALU INGAT ORANG TUA, SELALU INGAT ORANG TUA, insyaallah kalian AKAN SELAMAT, ALLAH AKAN MENCATAT, ALLAH AKAN BERI BERKAT.

Mari bersama berjuang untuk membahagiakan orang tua kita tercinta. Bersyukurlah kita yang masih menyaksikan orang tua kita sehat walafiat.

Banyak orang-orang di sekitar kita yang sudah sukses dan bergelimang harta tapi sering sedih karena tak bisa membalas jasa orang tua karena orang tuanya telah berpulang ke Pangkuan Ilahi. Jangan sampai adik-adikku menyesal.

Tulisan di atas terilhami karena video call beberapa jam lalu.

Saat sambungan video telepon terhenti karena jaringan terganggu, sayamenatap lekat-lekat wajah ayah saya, menatap tubuh kurusnya, dan saat itulah ingatan saat ayah mengantar saya kuliah, menyeruak.

YA ALLAH TERIMA KASIH ATAS SEHAT YANG KAU LIMPAHKAN PADA ORANG TUA KAMI, BERILAH KAMI KEKUATAN, KESEHATAN, DAN REZEKI AGAR KAMI BISA MEMBAHAGIAKAN MEREKA.AAMIIN ALLAHUMMA AAMIIN