Hari kedua saya di Pulau Kera, sebuah pulau yang masuk Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sebuah pulau yang menyimpan keindahan alam, kehidupan masyarakat pesisir, dan cerita-cerita sederhana yang begitu berkesan.
Kedatangan saya disambut dengan antusiasme anak-anak Pulau Kera. Mengajak saya berkeliling pulau, memperlihatkan tempat-tempat yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Saya melihat kebahagiaan yang tulus dari cara mereka mengajak saya berjalan. Mengajak saya mengelilingi pulau dan melihat keindahannya. Penjalanan ini membuat saya ingin mengenal lebih dekat kehidupan suku Same Bajau yang adadi pulau ini, mendengarkan cerita mereka, dan melihat dunia melalui mata mereka.
Kami mengunjungi sumber air tawar satu-satunya di pulau ini, sebuah tempat yang memiliki arti penting bagi masyarakat pulau. Anak-anak dengan bangga menunjukkan kepada saya sumber air tersebut, seolah ingin berkata bahwa inilah salah satu kekayaan yang dimiliki pulau mereka.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju mercusuar. Langkah-langkah kecil mereka yang tanpa kaki penuh semangat menceritakan berbagai hal tentang pulau, sambil menunjukkan keindahan alam yang selama ini menjadi bagian dari keseharian mereka.
Karena ada beberapa anak yang masih kecil, saya harus menggendongnya, menggendong dua orang anak sekaligus di punggung saya tentu merupakan kebahagiaan tak ternilai. dan tentu mereka pun sangat menikmatinya.
Di balik antusiasme itu, saya menemukan sebuah pesan penting: anak-anak Pulau Kera memiliki rasa cinta yang besar terhadap tanah kelahiran mereka. Mereka ingin orang lain mengenal keindahan pulau, kekayaan alamnya, dan kehidupan masyarakat yang tumbuh di dalamnya.

Saya pulang membawa kesan yang mendalam. Pulau Kera bukan hanya tentang laut dan daratan, tetapi juga tentang keramahan, kebanggaan, dan harapan anak-anak yang ingin memperkenalkan rumah mereka kepada dunia.
Terima kasih, anak-anak Pulau Kera, telah mengajak saya berkeliling dan memperlihatkan keindahan pulau kalian. Semoga semangat, keceriaan, dan kecintaan kalian terhadap kampung halaman terus tumbuh menjadi kekuatan untuk menjaga dan memajukan pulau tercinta.
Pulau Kera mengajarkan saya bahwa keindahan sebuah tempat tidak hanya terletak pada alamnya, tetapi juga pada hati orang-orang yang menjaganya.










